Flash Fiction



Judul : Yang Terabaikan
Oleh  : -Indah Nida-

"Selamat datang gaun pink, kamu indah sekali," sapa gaun merah berbinar-binar melihat keindahan gaun pink. Terlihat masih ada puluhan gaun indah lainnya yang berjejer rapi didalam sebuah lemari yang berukuran besar.

"Tapi ah, percuma saja, paling sebentar lagi nasib kamu akan sama seperti kami," timpal gaun berwarna ungu.

"Maksud kamu apa?" tanya gaun pink kebingungan.

"Jadi begini, kamu itu jangan terlalu berharap untuk bisa terus memamerkan keindahanmu di tubuh wanita itu. Karena dia hanya menggunakanmu sekali, lalu kemudian mencampakkanmu disini," jawab gaun ungu.

Gaun pink tidak percaya dengan apa yang didengarnya, karena dia melihat sendiri ekspresi wanita itu ketika memilih dirinya. Wanita itu sangat menyukainya.

"Entah apa yang ada dipikiran wanita itu. Kalau memang dia sudah tidak memerlukan kami lagi, seharusnya dia memberikan saja ke orang yang lebih membutuhkan kehadiran kami. Disini juga sudah mulai sesak, tapi wanita itu tidak peduli. Dia terus saja memasukkan gaun yang baru. Dasar wanita egois!" Kali ini gaun ungu terlihat marah.

"Iya betul!"

"Setuju dengan gaun ungu, keluarkan kami dari sini!"

Seisi lemari mulai riuh oleh teriakan para gaun lainnya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mulai mendekat ke arah lemari tempat gaun-gaun itu berada.

"Ssstt, semua diam, mari kita lihat apa lagi yang akan dilakukan wanita itu." Gaun hijau yang sejak tadi tidak bersuara akhirnya angkat bicara menenangkan teman-temannya.

Tak lama kemudian wanita itu membuka pintu lemari, diperhatikannya satu persatu gaun yang berjejer rapih didalamnya. Pandangannya tertuju pada gaun pink.

"Gaun yang indah, tapi sayang, aku tidak mungkin memakainya. Gaun ini terlalu girly, tidak sesuai untuk tema pesta malam ini. Sebagai gantinya aku akan memakai gaun yang ini saja," ucap wanita itu seraya memasukkan gaun berwarna maroon dan menempatkannya tepat berada disebelah gaun berwarna pink.

Melihat pemandangan yang baru saja terjadi dihadapannya, gaun pink hanya bisa menatap dengan tatapan yang nanar. Perasaannya tercabik-cabik.  "Aku bahkan belum dipakainya sama sekali," lirihnya kemudian.

Komentar

Postingan Populer