Ternyata Bukan Fobia
Oleh : Indah Puspita Dewi
Ketika ditanya apakah saya mempunyai fobia terhadap sesuatu, jujur saya bingung. Saya tidak tahu, ketakutan-ketakutan yang saya rasakan saat ini adalah fobia ataukah hanya ketakutan biasa.
Saya melirik ke arah Pak Suami yang kelihatannya sedang sibuk. Kira-kira Pak Suami punya fobia ga yah?
"Pah, mamah mau tanya, boleh?" saya ragu-ragu bertanya. Ternyata Bukan Fobia, takut mengganggu Pak Suami yang sedang sibuk di layar laptopnya.
"Boleh. Mamah mau tanya apa?" Pak Suami menjawab dengan tangan tetap memainkan keyboard sambil menatap layar laptopnya.
"Papah fobianya sama apa?"
"Mmm ... Papah fobia sama ngomel-ngomelnya Mamah," jawab Pak Suami diikuti ketawa kecilnya
"Bete ikh, Mamah serius nih tanyanya," pasang muka manyun.
"Yah abis, Mamah dari kemarin pertanyaannya aneh-aneh aja. Kemarin nanyain ayla-view, sekarang nanyain fobia." Hihihi. Ternyata Papah sadar juga, dari kemarin ditanyain pertanyaan aneh.
"Kalau Papah sendiri Alhamdulillah ga punya fobia. Kalau rasa takut dulunya ada. Tapi setelah semua hal yang sudah kita lewati selama ini, Papah jadi tidak takut lagi terhadap apapun, apalagi sampai fobia gitu. Papah selalu yakin ada Allah yang akan menolong Papah, menolong kita. Nah, kalau sudah begitu apalagi yang harus ditakutkan."
Saya terdiam, merenungi semua perkataan Pak Suami.
"Kalau Mamah gimana, yah, Pah? Apakah Mamah termasuk dalam kategori fobia, karena takut dibonceng pake motor?" saya bertanya lagi. Saya bertanya seperti itu bukan tanpa alasan. Semenjak kecelakaan 8 tahun silam, saya jadi trauma ketika dibonceng. Perasaanku jadi tidak karuan saat dibonceng. Seolah-olah ingin ditabrak oleh pengendara lain. Alhasil yang membonceng kadang merasa tidak nyaman mendengarkan saya menjerit tidak karuan.
"Bukan Mah, itu bukan fobia. Buktinya Mamah masih mau dibonceng pake motor, kan? Walaupun pake acara jejeritan ga jelas, tapi Mamah masih ada keberanian buat dibonceng. Orang takut belum tentu dia fobia."
Saya manggut-manggut mencerna semua kalimat keluar dari mulut Pak Suami. Maklum saya orangnya rada-rada lemot. Hihihihi.
Setelah mendengarkan penjelasan Pak Suami, bisa dipastikan saya tidak benar-benar fobia. Semua itu hanya perasaan takut biasa. Yang semua orang mungkin saja bisa ikut merasakannya.
*****
Catatan : Tulisan ini pernah diikut sertakan dalam 30DaysWriting
Challenge.

Komentar
Posting Komentar